Ikhtiar Langit Nabi Zakariya Agar Dikaruniai Anak Segera

Ikhtiar Langit Nabi Zakariya Agar Dikaruniai Anak Segera

REPUBLIKA. CO. ID, JAKARTA— Penantian panjangan ingin memiliki dinasti pernah dilalui Nabi Zakariya. Panantian panjang Nabi Zakariya ini diabadikan dalam Alquran surat Maryam mulai ayat 2-11. Surat Maryam bagian dua begitu tegas bagaimana Allah memberikan rahmat (kasih sayang) kepada Nabi Zakariya atas kesabarannya berharap agar Allah SWT memberinya rumpun:

Rasul Zakariya AS berdoa kepada Tuhan SWT agar dikarunia anak.

REPUBLIKA. CO. ID, JAKARTA— Penantian panjangan ingin memiliki keturunan pernah dilalui Nabi Zakariya. Panantian lama Nabi Zakariya ini diabadikan di Alquran surat Maryam mulai ayat 2-11.

Surat Maryam ayat dua begitu tegas bagaimana Allah memberikan rahmat (kasih sayang) kepada Nabi Zakariya atas kesabarannya berdoa agar Allah SWT memberinya keturunan:  

ذِكْرُ رَحْمَتِ رَبِّكَ عَبْدَهُ زَكَرِيَّا “Yang dibacakan ini adalah penjelasan mengenai rahmat Tuhanmu kepada hamba-Nya Zakariya. ”

Menurut Tafsir as-Sa’di karangan Syekh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di,   mengatakan maksud dibanding ayat dua pada surat maryam ini adalah penjelasan rahmat Tuhan SWT kepada hamba-Nya, Zakariya.    

Artinya daya surat Maryam di awal-awal itu bagaimana Allah mengisahkan kepada Nabi Muhammad dan sekaligus menguraikannya dengan uraian terperinci yang bisa menghadirkan kondisi Nabi-Nya, Zakariya, peninggalan-peninggalannya dengan baik, dan jalan hidupnya yang indah.      

Dan kata Syekh Abdurrahman bin Nashir, dalam penjelasan tentang rahmat (kasih sayang) Allah pada para wali-Nya dan penjelasan tentang penyebab apa saja yang mengundang turunnya rahmat buat mereka itu, terkandung perkara-perkara yang bisa memajukan untuk mencintai Allah SWT, memperbanyak dzikir kepada-Nya, lebih mengenal Allah, dan terkandung faktor yang mampu mengantarkan kepada-NYa.  

Hal ini disebabkan karena Allah telah memilih Nabi Zakariya (untuk mengemban) risalah-Nya dan mengistimewakan dia dengan (pemberian) wahyu.

Ayat tiga surah Maryam mengisahkan bagaimana kesantunan Nabi Zakariya di berdoa untuk menyampaikan hajatnya biar Allah SWT memberikan keturunan. Nabi Zakariya memohon dengan suara yang lembut:  

إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ نِدَاءً خَفِيًّا “Yaitu ketika dia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut. ”

Isi dari ciri Zakariya yang dipanjatkan melalui perkataan lembut itu dicatat Allah SWT dalam surat Maryam ayat 4 sampai ayat enam, ayat keempat yang artinya:    

قَالَ رَبِّ إِنِّي وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّي وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَلَمْ أَكُنْ بِدُعَائِكَ رَبِّ شَقِيًّا

“Dia (Zakariya) berceloteh, “Ya Tuhanku sungguh tulangku telah lama dan kepala ku sudah dipenuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu Tuhan. ”

Syekh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, membaca Nabi Zakariya menyadari kelemahan dalam dirinya dan khawatir akan wafat, sementara belum ada orang dengan menggantikan tugasnya (anak) untuk mendakwahi umat manusia kepada Rabb mereka dan menasehati mereka. “Maka dia mengadukan kelemahan batin dan fisiknya itu kepada Rabbnya, ” logat Syekh Abdurrahman bin Nashir.

Untuk itu Nabi Zakariya berdoa kepada Allah dengan bahana lembut, supaya doanya lebih sempurna, lebih utama dan lebih sempurna keikhlasannya. Beliau mengatakan, “Wahai Rabbku, sesungguhnya tulangku telah lemah, ” 

Maksudnya, sudah lemas dan lunglai. Jika tulang dengan merupakan penyangga badan sudah lesu, maka anggota badan yang lain pasti ikut melemah.  

“Kepalaku telah ditumbuhi uban, ” karena (tumbuhnya) uban merupakan pertanda kelemahan dan masa usang, utusan dan duta kematian mengikuti peringatan akan dekatnya kematian. “Maka Zakariya menjadikan kelemahan dan ketidakberdayaannya sebagai wasilah (perantara) dalam berharap kepada Allah, ” katanya.

Hal tersebut kata Syekh Abdurrahman bin Nashir merupakan salah satu bentuk wasilah yang dicintai Allah, karena menunjukkan berlepas diri dari daya dan kekuatan (pribadi) dan ketergantungan hati hanya kepada daya dan kekuatan Allah.

“Dan aku belum sudah kecewa dalam berdoa kepadaMu, wahai Rabbku. ” Wahai Rabbku, Engkau tidak pernah menolak permintaanku dengan hampa dan menjadi terhalang-halangi daripada pengabulan. Bahkan Engkau selalu menyambutku dan mengabulkan permohonanku. Dan kelembutan-Mu selalu silih berganti datang kepadaku, (begitu juga) kebaikan-Mu selalu sampai kepadaku.  

Taat Syekh As-Sa’di,   Ini ialah satu bentuk tawasul kepada Allah dengan (penyebutan) nikmat yang Allah anugerahkan kepadanya dan pengabulan doa-doanya yang terdahulu. Jadi, Nabi Zakariya berdoa kepada Allah yang telah memberinya kebaikan pada masa dengan lalu agar menyempurnakan curahan kebaikanNya pada masa akan datang.  

Sementara itu ayat ke-5 surat Maryam menyampaikan kekawatiran Nabi Zakariya:  

وَإِنِّي خِفْتُ الْمَوَالِيَ مِنْ وَرَائِي وَكَانَتِ امْرَأَتِي عَاقِرًا فَهَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّا

“Dan sesungguhnya aku khawatir kepada mawaliku sepeninggalku, sedang istriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putra,. ”

Namun ayat ke-6: يَرِثُنِي وَيَرِثُ مِنْ آلِ يَعْقُوبَ ۖ وَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا

“Yang mau mewarisi aku dan mewarisi dibanding keluarga Yakub; dan jadikanlah tempat ya Tuhanku, seorang yang diridai. ”

Setelah memerkarakan keresahannya dalam doa dengan suara lembut barulah Allah SWT mengesahkan doanya Zakariya.   Bahkan Tuhan langsung memberikan nama bagi bani Nabi Zakariya bernama Yahya.  

Nabi Zakariya adalah satu-satunya Nabi yang nama anaknya dinamai Allah langsung. Kisah seluruh ini dikisahkan dalam surat Maryam ayat ke-7:  

يَا زَكَرِيَّا إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلَامٍ اسْمُهُ يَحْيَىٰ لَمْ نَجْعَلْ لَهُ مِنْ قَبْلُ سَمِيًّا

“Allah berfirman wahai Zakariya saya memberi kabar gembira kepada mu dengan seorang anak laki-laki Namanya Yahya, yang kami belum pernah memberikan nama seperti itu sebelumnya. ”

Setelah dikasih kabar gembira akan kelahiran seorang anak bernama Yahya, Nabi Zakariya tidak percaya karena dia sudah usia lanjut dan istrinya seorang yang mandul. Ketidakpercayaan Nabi Zakariya diabadikan dalam ayat 8 surat Maryam:  

قَالَ رَبِّ أَنَّىٰ يَكُونُ لِي غُلَامٌ وَكَانَتِ امْرَأَتِي عَاقِرًا وَقَدْ بَلَغْتُ مِنَ الْكِبَرِ عِتِيًّا

“Dia (Zakariya) berkata, “Ya Tuhanku Bagaimana aku akan mempunyai bujang, pada istriku seseorang yang mandul dan aku sendiri sesungguhnya telah mencapai usia yang sangat sampai umur? ”

Allah SWT menenangkan Nabi Zakariya bahwa dia akan memiliki putra. Bagaimana cara Allah menenangkan Nabi Zakariya diabadikan dalam ayat 9 yang artinya:  

قَالَ كَذَٰلِكَ قَالَ رَبُّكَ هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٌ وَقَدْ خَلَقْتُكَ مِنْ قَبْلُ وَلَمْ تَكُ شَيْئًا

“Allah berfirman, demikianlah Tuhanmu berfirman, peristiwa itu mudah bagiku sungguh, engkau telah aku ciptakan sebelum tersebut, padahal pada waktu itu engkau belum berwujud sama sekali. ”

Setelah mendengar firman Allah itu Zakariya masih ragu & minta diberikan suatu kepastian dengan sebuah tanda. Permintaan Zakariya dikabulkan Allah SWT dan diabadikan di dalam ayat 10:

قَالَ رَبِّ اجْعَلْ لِي آيَةً ۚ قَالَ آيَتُكَ أَلَّا تُكَلِّمَ النَّاسَ ثَلَاثَ لَيَالٍ سَوِيًّا

“Dia Zakariya berkata, “Ya Tuhanku berilah aku suatu tanda. ” Allah berfirman, “tanda mau ialah engkau tidak dapat bercakap-cakap dengan manusia selama 3 malam padahal engkau sehat. ”

Nabi Zakariya pun menuruti order Allah dengan tidak berbicara semasa tiga alias puasa bisu. Sebutan yang keluar dari mulut Zakariya hanya kalimah yang menyucikan Allah. Hal ini ditegaskan dalam ayat 11:  

فَخَرَجَ عَلَىٰ قَوْمِهِ مِنَ الْمِحْرَابِ فَأَوْحَىٰ إِلَيْهِمْ أَنْ سَبِّحُوا بُكْرَةً وَعَشِيًّا

“Maka dia muncul dari sini menuju kaumnya, berarakan dia memberi isyarat kepada itu; bertasbihlah kamu pada waktu cepat dan petang. ”