Teks Khutbah Jumat: Pendidikan Islam Bagi Generasi Milenial

Teks Khutbah Jumat: Pendidikan Islam Bagi Generasi Milenial

REPUBLIKA. CO. ID, JAKARTA — Wakil Kepala Umum Persis KH Jeje Zaenudin menuliskan salah satu tema khutbah Jumat yang bisa dibacakan oleh khatib. Temanya adalah tentang Pendidikan Islam Bagi Generasi Milenial. Dibawah ini teks khutbahnya:  Ma’asyaral Muslimin Sidang Jumat Rahimakumullah.

Inti pendidikan Islam bagi generasi milenial bisa dibacakan khatib saat khutbah.

REPUBLIKA. CO. ID, JAKARTA — Wakil Ketua Umum Persis KH Jeje Zaenudin menuliskan salah utama tema khutbah Jumat yang bisa dibacakan oleh khatib. Temanya merupakan tentang Pendidikan Islam Bagi Generasi Milenial. Dibawah ini teks khutbahnya:
 
Ma’asyaral Muslimin Sidang Jumat Rahimakumullah.

Dengan berganti tahun semakin jauh kita meninggalkan masa kenabian dan semakin dekat kita kepada masa berakhirnya kehidupan semesta. Suka ataupun tak itulah sunnatullah yang pasti resmi. Sebagaimana siang dan malam dipergilirkan, zaman datang dan pergi silih berganti, seperti itu pula pengikut manusia. Generasi demi generasi  menusia datang silih berganti untuk berkompetisi memperlihatkan karyanya yang terbaik di muka bumi. Dalam perjuangannya melahirkan tugas kewajiban sebagai hamba-hamba Allah dan khalifah-khalifahnya di muka bumi ini.

Allah sudah mengingatkan kepada kita dan semua umat manusia pada umumnya,

وَاذْكُرُوا إِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَاءَ مِنْ بَعْدِ قَوْمِ نُوحٍ وَزَادَكُمْ فِي الْخَلْقِ بَسْطَةً فَاذْكُرُوا آلَاءَ اللَّهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ   

“Dan ingatlah oleh kamu sekalian di waktu Allah menjadikan kamu sebagai pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah lenyapnya kaum Nuh, dan Tuhan telah melebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu (daripada kaum Nuh itu). Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat kemujuran. ”

أَلَمْ يَرَوْا كَمْ أَهْلَكْنَا مِنْ قَبْلِهِمْ مِنْ قَرْنٍ مَكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ مَا لَمْ نُمَكِّنْ لَكُمْ وَأَرْسَلْنَا السَّمَاءَ عَلَيْهِمْ مِدْرَارًا وَجَعَلْنَا الْأَنْهَارَ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهِمْ فَأَهْلَكْنَاهُمْ بِذُنُوبِهِمْ وَأَنْشَأْنَا مِنْ بَعْدِهِمْ قَرْنًا آخَرِينَ (الانعاÙ: 6)

“Apakah mereka tidak menghiraukan berapa banyak generasi yang sudah Kami binasakan sebelum mereka, padahal (generasi itu) telah Kami teguhkan kedudukan mereka di muka dunia, yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan kepadamu, dan Saya curahkan hujan yang lebat pada mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena salah mereka sendiri, dan Kami mengejawantahkan sesudah mereka generasi yang lain”

Pada ayat di atas Allah informasikan kalau generasi Kaum ‘Ad adalah generasi baru yang datang menggantikan tingkatan kaum Nuh yang sebagian bilangan binasa dengan bencana banjir dunia. Allah beri keistimewaan kepada itu memiliki postur tubuh lebih kuat dari generasi sebelumnya. Dan dalam ayat yang kedua Allah peringatkan suatu hukum sejarah sebagai kesimpulan sunnatullah tentang timbul tenggelamnya, bangkit  dan runtuhnya peradaban suatu tingkatan umat dan bangsa manusia.

Peralihan generasi itu langsung berlangsung sampai hari kiamat serta sampai hari ini telah datang pada masa kita dan tingkatan yang sedang bersiap mengambil mendaulat dan melanjutkan estafeta perjuangan generai sebelumnya yang sedang berlangsung, mereka inilah yang populer disebut generasi Y atau generai Millenial.

Berdasarkan klasifikasi serta kategorisasi yang dikemukakan sebagian pakar teori perbedaan generasi, di mana generasi Y atau generasi Milenial adalah generasi yang lahir di rentang waktu antara 1981 sampai dengan tahun 2000, maka generasi Y adalah generasi yang paling potensial dari segala aspek. Itu yang berada antara usia 19 tahun hingga 40 tahun itu yang sedang menapaki jenjang pelajaran tinggi hingga yang sedang memasuki kemapanan dalam karir. Mereka merupakan generasi yang paling menentukan kehidupan agama, umat, dan bangsa dalam masa yang akan datang.

Jika mengacu pada hasil riset Kementerian Pemberdayaan Rani dan Perlindungan Anak yang bekerjasama dengan Badan Pusat Statistik dengan diterbitkan pada tahun 2018, mengenai Profile Generasi Milenial Indonesia jumlahnya mencapai 33, 75 persen sejak total penduduk Indonesia yang tarikh 2019 ini diperkirakan mencapai angka 265 juta jiwa. Maka kadar bangsa ke depannnya akan sangat ditentukan oleh peran dan kiprah mereka itu yang jumahnya bertambah dari sepertiga penduduk.

Sebagai sebuah keniscayaan dan kesimpulan sunnatullah, peralihan generasi dan pergantian kepemimpinan di muka bumi tercatat tema yang sering diungkapkan sebab Al-Quran dengan menggunakan terma istikhlaf, pergantian generasi kepemimpinan, sedang generasi para penggantinya disebut dengan kepemimpinan, khulafa, dan khalaif. Misalnya adalah pernyataan Al Qur’an,

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ  [النور: 55]

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara awak dan mengerjakan amal-amal yang taat bahwa Dia sungguh-sungguh akan mendaulat mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang pra mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka petunjuk yang telah diridhai-Nya untuk itu, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Serta barangsiapa yang (tetap) kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik. ” (An Nur: 55)

Tetapi yang terpenting diperingatkan oleh Al-Qur’an adalah mengenai karakteristik dan kualitas para generasi tersebut. Dimana peralihan generasi & kepemimpinan tidak selamanya berlangsung linear tetapi seringkali terjadi secara sepiral bahkan regresif.
Pada Surat Al A’rof ayat ke 168-169 Al Quran menggambarkan kebobrokan yang terjadi pasca peralihan tingkatan:

وَقَطَّعْنَاهُمْ فِي الْأَرْضِ أُمَمًا مِنْهُمُ الصَّالِحُونَ وَمِنْهُمْ دُونَ ذَلِكَ وَبَلَوْنَاهُمْ بِالْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ. فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ وَرِثُوا الْكِتَابَ يَأْخُذُونَ عَرَضَ هَذَا الْأَدْنَى وَيَقُولُونَ سَيُغْفَرُ لَنَا وَإِنْ يَأْتِهِمْ عَرَضٌ مِثْلُهُ يَأْخُذُوهُ أَلَمْ يُؤْخَذْ عَلَيْهِمْ مِيثَاقُ الْكِتَابِ أَنْ لَا يَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلَّا الْحَقَّ وَدَرَسُوا مَا فِيهِ وَالدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ  

“Dan Kami bagi-bagi mereka pada dunia ini menjadi beberapa lapisan; di antaranya ada orang-orang dengan saleh dan di antaranya tersedia yang tidak demikian. Dan Awak coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran)” (168)

“Maka datanglah setelah mereka generasi (yang jahat) dengan mewarisi Taurat, yang mengambil harta benda dunia yang rendah itu, dan berkata: “Kami akan diberi ampun. ” Dan kelak jika datang kepada mereka harta substansi dunia sebanyak itu (pula), niscaya mereka akan mengambilnya (juga). Bukankah perjanjian Taurat sudah diambil daripada mereka, yaitu bahwa mereka tak akan mengatakan terhadap Allah melainkan yang benar, padahal mereka telah mempelajari apa yang tersebut pada dalamnya?. Dan kampung akhirat tersebut lebih bagi mereka yang bertakwa. Maka apakah kamu sekalian tak mengerti? ” (169)

Secara bertambah spesifik disebutkaan oleh Al-Quran pada Surat Maryam ayat 59 kalau datangnya generasi yang rusak itu adalah generasi yang memilih hidup dorongan dan hedonisme daripada berkepanjangan ketaatan:

فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا

“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan mengikuti hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan, ” (19: 59)

Ayat-ayat di atas berbicara mengenai peralihan generasi yang meyedihkan. Di mana generasi pendatang tidak bisa menjaga warisan kekayaan kemuliaan yang ditinggalkan nenek moyang mereka yang telah dibangun dengan fondasi & nilai-nilai wahyu yang dibawa para Nabi mereka sebelumnya.

Apa yang diungkapkan Al-Quran tentang pergantian generasi dan perubahan karakter serta budaya hidup pada umat-umat terdahulu mengandung pelajaran dan rujukan berharga bagi umat Nabi Muhammad yang dipersiapkan sebagai umat final dari perjalanan umat manusia, dimana karakteristik utamanya adalah tidak tersedia lagi kepemimpinan para Nabi serta Rasul karena sudah diakhiri dengan wafatya terakhir Nabi Muhammad, mereka terlahir untuk mewarisi nilai-nilai terkenal itu berupa sumber ajarannya dengan ditinggalkan kepada mereka, yaitu teks Allah dan Sunnah Nabinya. “Aku tinggalkan kepada kalian dua pusaka, yang jika kaian pedomani secara seuat tenaga, niscaya kalian tak akan tersesat selama-lamanya, yaitu Teks Alah dan Sunnah Nabinya”.

Di sisi lain Al-Quran juga mengingatkan bahwa generasi perlu generasi yang lahir dari rahim Umat Islam ini, senantiasa bercampur di tengah mereka tiga grup generasi umat yang mempunyai istimewa yang berbeda-beda kualitasnya.

ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ

“Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, berarakan di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri serta di antara mereka ada dengan pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia dengan amat besar”. (Fathir: 32)

Mengacu kepada uraian para mufassir, bahwa kawanan generasi umat Nabi Muhammad dengan zhalimun linafsih atau yang “menganiaya diri sendiri” adalah mereka yang meninggalkan kewajiban dan tanggungjawabnya pada agama dan umat dan sebaliknya senantiasa melanggar apa yang dilarang kepada mereka.

Kelompok generasi pewaris yang muqtashid “pertengahan” atau “biasa-biasa saja” adalah mereka generasi yang merasa lulus puas dengan telah mampu menutup apa yang menjadi kewajiban modal pribadi mereka dan meninggalkan apa yang diharamkan agama kepada mereka, tetapi tidak mempunyai kesadaran & kepekaan terhadap tanggung jawab kolektif mereka sebagai pemimpin umat. Kesalehan mereka baru sebatas mengamalkan di yang wajib dan meninggalkan dengan haram, tanpa dibarengi kegairahan tempat tanggungjawab sosial dan kolektif itu. Sebagaimana belum peduli menghidupkan kebaikan-kebaikan dan pengorbanan yang bersifat sukarela dan pengabdian.

Sedang kelompok generasi ketiga diistilahkan oleh Al-Qur’an dengan sebutan “sabiqun bil kaerat”, yaitu generasi pejuang dan pelopor yang semangatnya adalah berlomba dan berkompetisi dalam kebaikan.

Kita tetap semua berharap bahwa peralihan generasi itu berpindah dan berlanjut kepada generasi-generasi yang berkelas “sabiqun bil khaerat”, generasi pelopor bukan budak, generasi pejuang bukan pemalas, generai pemenang bukan pecundang, generasi dengan mampu berkarya bukan yang cuma bercerita, merekalah yang mendapat gadai Al-Quran bahwa di tangan tingkatan seperti itulah kajayaan dan nikmat Allah yang besar akan dilimpahkan kepada mereka.    

Namun keberhasilan dan tidaknya membangun generasi milenial yang berkarakter sabiqun bil khaerat kepada kepada kesungguhan mempersiapkannya, mendidik dan membinanya. Kebangkitan generasi para pejuang & pemenang tentu adalah dipersiapkan tidak kebetulan.  

Kita menyadari bahwa generasi Y ataupun generasi milenial tumbuh dan berkembang dengan tanggungan, peluang dan tantangan yang berbeda dan bisa lebih berat dari yang dihadapi kita dan yang sebelumnya. Maka tak mungkin generasi yang hidup dengan zaman dan tantangan yang bertentangan dididik dan dipersiapkan dengan jalan dan metode tradisisonal yang telah ketinggalan zaman.

Individualitas yang menonjol dari generasi milaenial adalah penguasaanya terhadap teknologi informasi dan media sosial. Dengan fasilitas belajar dan mendapatkan akses informasi dan pengetahuan dengan caranya sendiri melalui teknologi, Sehingga mereka tidak bisa lagi diajari atau asuh dengan cara otoriter dan naif. Kemudahan akses informasi sangat positif mempercepat dan mempermudah transfer berita dan pengetahuan, tetapi pada periode bersamaan peluang untuk mendapat informasi dan pemahaman keagamaan yang sudah terkontaminasi pemahaman yang destruktif untuk nilai-nilai agama, norma dan budi sosial semakin terbuka lebar. Tak mengherankan jika kemudian generasi milenial menjadi market yang potensial untuk penyebaran berbagai virus perusak pemikiran, akidah, ideologi, hingga perilaku keluar. Dari paham intoleran dan terorisme hingga paham sekuler, liberal, makin ateis.
 
Maka tugas utama generasi tua merupakan bagaimana memberi ruang dan jalan pendidikan yang layak, patut, & sesuai dengan kamajuan, tantangan serta peluang zaman yang mereka hadapi.

Rasulullah bersabda, “Ajaklah manusia berbicara dengan kadar budi mereka”. Ali bin Abu Thalib berkata, “Sampaikanlah kepada manusia barang apa yang bisa mereka pahami, sudikah kalian Allah dan Rasul-Nya didustakan manusia karena kesalahan penyampaian kalian”. Umar mengatakan, “Didiklah anak-anak kalian, karena sesungguhnya mereka akan bertemu suatau zaman yang berbeda secara zaman kalian ini”.

Maka dengan demikian, yang dibutuhkan sekarang dan seterusnya adalah seruan dan pendidikan Islam yang senafas dengan perubahan zaman yang jalan utamanya adalah teknologi informasi secara konten-konten yang dibutuh semua kalangan manusia dan terutama dapat menjadi bekal bagi generasi Milenial dalam menunaikan tanggungjawab mereka sebagai generasi pengganti yang siap memberi solusi terhadap berbagai problema kehidupan pengikut manusia, khususnya dalam membangun kemajuan umat dan bangsa Indonesia dengan menjadi cerminan Islam sebagai rahmatan lil alamin. Kegagalan dakwah & pendidikan akan berdampak kegagalan mengecap generasi yang siap dan mampu mengemban amanah sejarah sebagai para-para pewaris risalah nubuwah akhir zaman yang berakibat kehencuran peradaban pengikut di masa yang akan hadir. Kita tentu berlindung dari kemungkinan buruk seperti itu.

Barakallahu lii wa lakum bil qur’anil karim wa naf’ani wa iyyakum bima fihi minal ayati wa zikril hakim.