Khotbah Perdana, Joe Biden Janji Satukan Rakyat AS

Khotbah Perdana, Joe Biden Janji Satukan Rakyat AS

WASHINGTON — Presiden terbatas Amerika Serikat (AS) Joe Biden mengatakan saat ini adalah waktu yang tepat untuk menyatukan bangsa. Dalam pidato pertamanya setelah resmi dinyatakan menang dalam pemilihan dalam Sabtu (7/11), ia mengatakan momen ini menjadi waktu untuk menyembuhkan Amerika dengan terpecah.

Joe Biden akan resmi menjadi Presiden AS setelah dilantik pada 20 Januari 2021

WASHINGTON — Presiden terpilih Amerika Serikat (AS) Joe Biden mengatakan saat ini adalah waktu yang tepat buat menyatukan bangsa. Dalam pidato pertamanya setelah resmi dinyatakan menang di pemilihan pada Sabtu (7/11), ia mengatakan  momen ini  menjadi periode untuk menyembuhkan Amerika yang terbelah.  

Hasil penghitungan suara pemilihan presiden AS menunjukkan Biden menang di Pennsylvania, yang menjadikan dirinya mendapatkan lebih dari 270 pandangan elektoral yang dibutuhkan untuk melenggang ke Gedung Putih. Itu mengakhiri ketegangan sepanjang proses selama empat hari, di mana kandidat pejawat Presiden Donald Trump tetap menolak untuk menyerah.  

“Rakyat negara ini telah berbicara, mereka memberi kami kemenangan yang meyakinkan. Saya berjanji menjadi presiden yang mencari jalan tidak memecah belah, tetapi untuk mempersatukan, ” ujar Biden di pidato kemenangannya di Wilmington, Delaware.

Ucapan selamat kepada Biden berdatangan dari berbagai kepala negara & perdana Menteri Inggris yang pengakuan Boris Johnson, Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau, dan Kanselir Jerman Angela Merkel. Biden akan sah menjadi Presiden AS setelah dilantik pada 20 Januari 2021. Dia bersana senator AS Kamala Harris yang menjadi perempuan kulit hitam pertama menjadi wakil presiden, mau memimpin pemerintahan negara adidaya tersebut selama empat tahun ke pendahuluan.  

Biden akan menjadi presiden tertua GANDAR saat dilantik pada 20 Januari 2021. Pria berusia 78 tahun ini kemungkinan akan menghadapi suruhan yang sulit untuk memerintah pada Washington yang sangat terpolarisasi.

Persaingan Biden & Trump menunjukkan pemilu 2020 sebagai salah satu yang paling penting dalam sejarah AS. Momen tersebut sama pentingnya dengan suara semasa Perang Saudara pada 1860-an serta Great Depression (Depresi Hebat) di 1930-an yang terjadi di negeri itu.

Kemajuan Biden didorong oleh dukungan berpengaruh dari berbagai kelompok termasuk rani, Afrika-Amerika, pemilih kulit putih secara gelar sarjana, dan penduduk kota. Dia mengalahkan Trump dengan bertambah dari empat juta suara dalam penghitungan suara populer nasional.

Sementara itu, pembantu Trump bereaksi dengan kekecewaan, syak, dan menyoroti tugas sulit dengan dihadapi Biden untuk memenangkan besar banyak orang Amerika. Mereka beriktikad bahwa Trump adalah presiden baru yang memerintah dengan sepenuh miring.  

“Ini memuakkan dan menyedihkan, ” logat Kayla Doyle, seorang pendukung Trump berusia 35 tahun di Mifflintown.

Demonstran pro-Trump terlihat berkumpul di gedung-gedung kongres negara bagian di Michigan, Pennsylvania, dan Arizona. Para pengunjuk menemui di Phoenix meneriakkan, “Kami ingin penghitungan ulang! ” Bahkan lupa satu di antaranya mengatakan: “Kami akan menang di pengadilan! ”

Tidak tersedia tanda-tanda kekerasan atau kekacauan yang ditakuti banyak orang, dan penentangan pro-Trump sebagian besar mereda secara sendirinya. Sebelum pemilihan, Trump menolak untuk berkomitmen pada transfer kewenangan secara damai jika kalah, & dirinya telah menyatakan kemenangan jauh sebelum penghitungan selesai.