Sarjana Ungkap Kemungkinan Sebab Hilangnya Cairan di Mars

Sarjana Ungkap Kemungkinan Sebab Hilangnya Cairan di Mars

REPUBLIKA. CO. ID, MOSKOW — Tersangkut debu di Planet Mars diduga menjadi penyebab hilangnya air di planet itu. Badai debu adalah hal yang biasa, namun karena alasan yang tidak diketahui, tersangkut yang mengerikan menyebar ke seluruh dunia hingga menutupi planet ini.

Badai debu di Mars mungkin menjadikan hilangnya air di Mars.

REPUBLIKA. CO. ID, MOSKOW — Badai debu di Planet Mars diduga menjadi penyebab hilangnya minuman di planet itu. Badai bubuk adalah hal yang biasa, tetapi karena alasan yang tidak diketahui, badai yang mengerikan menyebar ke seluruh dunia hingga menutupi planet ini.

Badai dapat menjadi ancaman mematikan untuk eksplorasi. Bahkan badai pada 2018 membunuh penjelajah Opportunity NASA sebab melapisi panel surya dengan debu. Sekarang, para peneliti mengatakan angin besar mungkin juga menjadi salah mulia penyebab dinginnya Mars.

Badai itu juga mengubah planet yang dulunya basah sampai kematian airnya. Fosil sungai dan delta yang terukir di Mars membuktikan air mengalir di sana miliaran tahun yang lalu. Sebagian luhur air entah bagaimana bisa terbang ke luar angkasa.

Namun para peneliti menyangka uap air tidak dapat amblas tinggi di atmosfer yang lega dan tipis tanpa mengembun menjelma salju dan jatuh kembali ke permukaan. Data baru dari pengorbit Mars Atmosphere and Volatile Evolution (MAVEN) NASA menunjukkan bagaimana badai debu yang berputar dapat memompa air ke luar angkasa.

“Proses ini adalah cara efektif untuk membuat Mars kering kehilangan airnya, ” introduksi Anna Fedorova sebagai ilmuwan satelit di Institut Penelitian Luar Udara Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia dilansir dari Sciencemag pada Jumat (13/11).

Salah satu proses hilangnya air yang diketahui berasal lantaran sinar ultraviolet (UV) Matahari yang dapat memecah air di permukaan Mars. Lalu mengirimkan hidrogen dan oksigen meresap ke atas suasana hingga hilang ke luar angkasa.

Selama topan 2018, Shane Stone, seorang mahasiswa pascasarjana di Universitas Arizona tahu data dari MAVEN yang sudah mempelajari atmosfer bagian atas satelit tersebut sejak 2014. Satu perkakas MAVEN secara langsung mengambil contoh atmosfer saat probe menukik ke ketinggian orbit terendah 150 kilometer.

Stone tidak dapat mempercayai barang apa yang dilaporkannya: Saat debu berpikir di ketinggian yang lebih lembut, banjir air mencapai tepi udara.

“Ini betul-betul luar biasa. Badai debu ijmal menonjol dalam data seperti tak ada yang lain, ” ucap Stone.