Peristiwa Ustaz Tarik Cadar Perempuan Dimediasi MUI Tangerang

Peristiwa Ustaz Tarik Cadar Perempuan Dimediasi MUI Tangerang

REPUBLIKA. CO. ID, TANGERANG — Kasus penarikan cadar di Kota Tangerang, Banten yang dialami oleh P (42 tahun) dengan karakter Z (70) masih terus berproses polisi. Selain melayangkan laporan ke pihak kepolisian, tim advokat objek juga telah melakukan audiensi secara majelis ulama Indonesia (MUI) Praja Tangerang pada Jumat (13/11).

Perbuatan Z menarik cadar P lupa secara akhlak dan tidak bisa dibenarkan.

REPUBLIKA. CO. ID, TANGERANG — Kasus penarikan cadar di Kota Tangerang, Banten dengan dialami oleh P (42 tahun) dengan pelaku Z (70) masih terus berproses polisi. Selain melayangkan laporan ke pihak kepolisian, awak advokat korban juga telah melakukan audiensi dengan majelis ulama Nusantara (MUI) Kota Tangerang pada Jumat (13/11).

Wakil Pemimpin Majelis Ulama Indonesia (MUI) Tanah air Tangerang, Baijuri Khotib, mengatakan, pihaknya siap mengadakan pertemuan untuk mendamaikan kedua belah pihak pada pokok pekan depan. “Nanti ada islah hari Senin (16/11), ” prawacana Baijuri kepada Republika , Sabtu (14/11).

Baijuri menjelaskan, pada dasarnya dasar apa yang dilakukan oleh Z terhadap P merupakan perbuatan yang salah secara akhlak dan tidak bisa dibenarkan. Namun, dia menyebut, perbuatan itu tidak sampai pada penodaan agama.

“Itu memang tersedia pelecehan tapi dari sisi budi pekerti. Setelah ditelusuri dari aspek adat, tidak ada penodaan agama, ” tuturnya.

Melalui proses penelusuran dan pendalaman, Baijuri menyampaikan, ada beberapa hal yang menetapkan dipahami dalam menanggapi kasus itu. Di antaranya, korban dan pelaku merupakan murid dan guru, sudah kenal lama, dan merupakan tetangga.

“Kedua belah bagian sudah kami dapat informasi. Fakta-faktanya, mereka murid dan guru, telah lama enggak bertemu. Lalu (kejadian) dilakukan di tempat umum, ” kata Baijuri. ”

Boleh jadi kita tidak membenarkan adanya unsur kesengajaan. Berpengaruh dugaan begitu, anggapan itu pas punya alasan, ” ujar Baijuri menambahkan.

Dia menerangkan, peristiwa itu merupakan kejadian yang tidak perlu diperpanjang. Apalagi, kedua belah pihak diketahui saling melapor ke kepolisian. Baijuri menambahkan, tim dari pihak P mengadukan Z dengan pasal perbuatan tidak menyenangkan. Sementara itu, dari pihak Z melaporkan P dengan tuntutan adanya pencemaran nama baik & pelanggaran Undang-Undang Informasi dan Pembicaraan Elektronik (ITE).

“Saya sampaikan, MUI tidak ada masuk pada wilayah hukum nyata. Kalau sama-sama ngotot , monggo saja, ” kata Baijuri.

Baijuri berharap, kejadian itu bisa diselesaikan secara kekeluargaan dan berujung pada kata damai. “Kami arahkan ada kesepakatan keadaan Senin untuk damai. Nanti ada tausiyah dari MUI, kita harmonis tidak ada yang kami pelihara, ” terangnya.

Pada 4 November 2020 sekitar pukul 10. 00 WIB, pada Kota Tangerang terjadi insiden penarikan cadar yang dilakukan Z terhadap P. Saat itu, P beriringan keponakannya yang berusia empat tahun sedang berjalan pulang dari pasar.

Saat hendak melewati gang rumahnya, korban merasakan terhalangi oleh Z yang medium berbincang dengan orang lain dalam jalan gang depan rumahnya, ditambah adanya jemuran milik Z. Korban meminta izin melintas, namun tiba-tiba pelaku yang kerap dipanggil kiai di lingkungan sekitar itu menjadikan cadarnya hingga tersingkap wajahnya.

Kasus itu diketahui telah dilaporkan oleh tim perkataan korban ke polisi pada Jumat (13/11). MUI Kota Tangerang pun ikut turun tangan untuk menangani masalah itu.