Dalil Cucu Nabi Muhammad Lepas Bagian Khalifah

REPUBLIKA. CO. ID, JAKARTA — Setidaknya ada tiga alasan utama mengapa cucu Nabi Muhammad ﷺ, al-Hasan bersedia berunding dengan Mu’awiyah serta menyerahkan kekhalifahan kepadanya. Dikutip lantaran buku Hasan dan Husain the Untold Story karya Sayyid Hasan al-Husaini, salah satu alasanya yaitu karena al-Hasan hanya mengharap balasan di sisi Allah Ta’ala.

Cucu Rasul Muhammad bersedia melepas jabatan Khalifah.

REPUBLIKA. CO. ID, JAKARTA — Setidaknya ada tiga dalil utama mengapa cucu Nabi Muhammad ﷺ, al-Hasan bersedia berunding dengan Mu’awiyah dan menyerahkan kekhalifahan kepadanya.

Dikutip dari sendi Hasan dan Husain the Untold Story karya Sayyid Hasan al-Husaini, salah satu alasanya yakni karena al-Hasan hanya mengharap pahala di sisi Tuhan Ta’ala.

Al-Hasan mengizinkan menyerahkan jabatan kekhalifahan kepada Mu’awiyah karena cucu Nabi ini hanya mengharap pahala di sisi Tuhan dan kebaikan bagi umat Islam.

Nufair al-Hadhrami mengucapkan, suatu ketika aku ingin mendapati tanggapan al-Hasan terhadap komentar asosiasi tentang dirinya. Aku katakan: “Orang-orang mengatakan bahwa sebenarnya engkau menginginkan jabatan sebagai khalifah”. Ini adalah tuduhan keji yang dialamatkan pada para juru damai. Betapa tak? Niat baik mereka justru disalahtafsirkan, dan motif mereka malah dipertanyakan.

Bagaimana tanggapan al-Hasan terhadap perkataan Nufair al-Hadhrami? Dia berkata: “Ketika itu nasib orang-orang Arab berada digenggamanku, mereka siap berdamai dengan siapa pun dengan berdamai denganku, dan siap memerangi siapa pun yang aku perangi. Meskipun demikian, kutinggalkan tampuk kekhalifahan itu demi mengharap wajah Tuhan ( Al Bidayah wan Nihayah dan Adz-Dzurriyyah ath-Thayyibah ).

Sungguh positif keputusan al-Hasan, dan sikapnya itu benar-benar mencerminkan firman Allah:

اِنَّمَا الۡمُؤۡمِنُوۡنَ اِخۡوَةٌ فَاَصۡلِحُوۡا بَيۡنَ اَخَوَيۡكُمۡ ‌ۚ‌وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُوۡنَ

Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, sebab itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat kebaikan (Al-Hujurat ayat 10).

Kedua, al-Hasan ingin mewujudkan janji kakeknya, Nabi Muhammad ﷺ mengabarkan bahwa al-Hasan bakal menjadi pemimpin yang mendamaikan dua kelompok besar kaum mukminin (yang bertikai). Jaminan ini mendorong al-Hasan untuk berpikir, menyusun rencana, menyiapkan dirinya untuk menciptakan perdamaian & menyingkirkan semua halangan yang menghadang terwujudnya persatuan umat.

Ketiga, al-Hasan berupaya menjaga menghabisi kaum muslimin. Al-Hasan melakukan semua tersebut, salah satunya, adalah demi melestarikan kehormatan dan nyawa kaum muslimin.

Al-Hasan menuturkan: “Aku khawatir jika pada hari Kiamat ada 70 ribu atau 80 ribu orang atau kurang bertambah segitu, yang urat nadi pada leher mereka terus mengucurkan darah, lalu mereka semua mengadu kepada Allah perihal mengapa darah mereka harus ditumpahkan sia-sia? ” (Al Bidayah wan Nihayah).

Bagi al-Hasan, melindungi nyawa trah muslimin tergolong ibadah untuk mengerapkan diri kepada Allah. Selain tersebut, dia lebih mengkhawatirkan proses hisab dirinya di hadapan-Nya mengenai darah orang-orang muslim pada hari Kiamat, meskipun konsekuensinya dia harus menyerahkan kekhalifahan kepada orang lain.

Al-hasan lebih memprioritaskan relevansi umat daripada kepentingan pribadi. Tempat rela menyerhakan kepemimpinan kepada orang lain demi melindungi nyawa kelompok muslimin.

Source: republika. co. id