Setidaknya ada 3 polisi dibanding jajaran Polda Metro Jaya yang sudah berstatus terlapor.

REPUBLIKA. CO. ID,   JAKARTA — Cendekiawan Muslim, Prof Keyakinan Syamsuddin mengungkapkan, berita tentang ketersangkaan enam anggota Tentara Front Pembela Islam (FPI) mengejutkan. Selain karena mereka sudah berada di alam barzakh, juga patut dipertanyakan kok bukan penembak atau eksekutor mereka yang diungkap dan dijadikan tersangka.

“Namun, jadi orang awam hukum, saya membatin bagus juga kehakiman itu digelar, tentu secara menghadirkan para penembak atau pembunuh (enam Laskar FPI) itu, ” kata Keyakinan melalui pesan tertulis yang diterima Republika , Jumat (5/3).

Din mengatakan, nanti aparat penegak hukum dan keamanan perlu ditanya. Mengapa mereka menembak enam Laskar FPI, mengapa harus sampai mati, pada mana dan bagaimana jalan menembaknya. Tentu juga harus dihadirkan saksi dan barang buktinya.  

Mantan Ketua Umum Arahan Pusat Muhammadiyah ini mempersoalkan, apakah para penembak enam korban mati itu ditembak terlebih dulu oleh Laskar FPI?. Sehingga aparat kesejahteraan membalas tembakan. Lantas adakah bekas-bekas tembakannya.

Din mengingatkan, sebagai barang bukti sekaligus saksi yang harus dihadirkan adalah CCTV. “Tapi sebagai kaum beriman, mari kita yakini kalau ada CCTV Maha Gembung, Maha Melihat dan Maha  Menyaksikan, yang balasan-Nya benar langsung baik di negeri maupun di akhirat, ” ujarnya.

Bekas Ketua Dewan Pertimbangan Cantik Ulama Indonesia (Wantim MUI) ini mengatakan, para atma tersangka yang diadili dengan in absentia dari alam barzakh, boleh jadi mengajukan pleidoi dengan meminta bantuan pada Saksi Yang Maha Pelajaran. Supaya Yang Maha Mengetahui membantu kaum mazhlumin.

Sebelumnya, Badan Reserse dan Kriminal (Bareskrim) Polri resmi menghentikan penyidikan kejadian dugaan penyerangan FPI pada polisi di Tol Jakarta-Cikampek KM 50. Maka dengan demikian, seluruh penyidikan mengenai tersebut dan status tersangka pada enam almarhum Tentara FPI sudah tidak sah di mata hukum.

Kepala Divisi Humas Polri Irjen Argo Yuwono menjelaskan, penghentian kasus ini sebagaimana tertuang dalam Perkara 109 KUHP karena tersangka sudah meninggal dunia. “Kasus penyerangan di Tol Jakarta-Cikampek dihentikan. Dengan begitu, pemeriksaan serta status tersangka sudah gugur, ” kata Argo dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Kamis (4/3).

Namun di sisi asing, terkait dengan kasus ini, kata Argo, aparat kepolisian sudah menerbitkan Laporan Polisi (LP) soal dugaan adanya unlawful killing di peristiwa penyerangan Laskar FPI itu. Setidaknya ada tiga polisi dari jajaran Polda Metro Jaya yang sudah berkedudukan terlapor. Hal itu sebagaimana dengan instruksi Kapolri buat menjalankan rekomendasi dan temuan dari Komnas HAM soal perkara ini.  

 

 

Source: republika. co. id