Industri penerbangan sedang meningkatkan kampanyenya untuk melonggarkan pembatasan.

REPUBLIKA. CO. ID,   JAKARTA – Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) mendesak negara-negara G7 yakni Inggris, Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, dan Amerika Serikat mampu melonggarkan pembatasan perjalanan global. IATA berharap hal itu dapat disetujui sebelum pertemuan puncak para pemimpin negeri G7 di Inggris pekan depan.

“Tidak ada pendekatan terhindar risiko. Pemerintah perlu menerima beberapa risiko dan melanjutkan hidup kita, ” kata pendahuluan pejabat IATA Willie Walsh, dikutip dari AP , Kamis (3/6).

Industri penerbangan sedang meningkatkan kampanyenya buat melonggarkan pembatasan dan memungkinkan lebih banyak lagi  kunjungan internasional. IATA menilai pemerintah harus menggunakan langkah-langkah penyaringan, seperti menguji penumpang untuk memastikan bebas dari Covid-19 daripada memberlakukan karantina dan pembatasan lainnya.

IATA mengutip penelitian yang menunjukkan pelancong yang divaksinasi memiliki efek lebih kecil dalam penyebaran Covid-19. Untuk memperkuat argumennya dan membiarkan orang dengan tidak divaksinasi bepergian selalu, IATA mengatakan hanya 2, 2 persen pelancong ke Inggris pada akhir Februari dan awal Mei 2021 yang dinyatakan positif Covid-19.

Tak cuma itu, pada bulan morat-marit juga maskapai penerbangan AS dan Inggris meminta Kepala Joe Biden dan Pertama Menteri Inggris Boris Johnson mencabut pembatasan perjalanan antara kedua negara sebelum KTT. Hanya saja pemerintah belum merespons hal tersebut.

IATA memproyeksikan industri penerbangan akan kehilangan 48 miliar dolar AS pada tahun ini setelah kematian 126 miliar dolar GANDAR pada 2020. Kepala Ekonom IATA mengatakan pada pasar lalu bahwa lalu lin udara tahun ini belum akan pulih ke tingkat sebelum pandemi hingga 2023.

sumber: AP

Source: republika. co. id