Proses perluasan vaksin tidak bisa dilakukan di waktu yang begitu cepat

REPUBLIKA. CO. ID, JAKARTA — CEO dari perusahaan farmasi Merck & Co., yang merupakan produsen vaksin terkemuka dunia, Ken Frazier, mengungkapkan tentang proses pengembangan vaksin yang tidak bisa dilakukan pada waktu yang begitu cepat. Dalam sebuah wawancara dengan Profesor Tsedal Neeley, dari Harvard Business School, Frazier mengatakan bahwa proses perluasan vaksin membutuhkan waktu lama karena membutuhkan evaluasi ilmiah yang sendat.

Menurutnya, ada penuh contoh vaksin di masa semrawut yang merangsang sistem kekebalan, tetapi tidak memberikan perlindungan. Yang bertambah disayangkan, kata dia, ada beberapa kasus di mana vaksin tidak hanya gagal memberikan perlindungan, namun membantu virus untuk menyerang sel karena vaksin tersebut tidak penuh.

“Mengenai sifat imunogeniknya, kami harus sangat berhati-hati, ” kata Frazier, dilansir di laman Harvard Business School (HBSWK), Senin (21/12).

Ia lantas mengenang bahwa vaksin tercepat yang pernah dibawa ke pasar merupakan dari Merck, yakni vaksin buat melawan gondongan, yang memakan masa sekitar empat tahun. Selanjutnya, vaksin Merck untuk ‘Ebola’ juga membutuhkan waktu lima setengah tahun dan baru disetujui di Eropa kamar ini.

Ada selalu vaksin ‘tuberkulosis’ yang membutuhkan waktu 13 tahun, dan vaksin ‘Rotavirus’ yang membutuhkan waktu 15 tahun, serta vaksin ‘cacar air’ secara waktu 28 tahun.

Dalam kasus Covid-19, ia mengungkapkan perusahaannya bahkan tidak memahami virus itu sendiri atau bagaimana virus tersebut mempengaruhi sistem kekebalan. Menurutnya, tidak ada yang mengetahui pasti apakah salah satu dari kalender vaksin ini akan menghasilkan sebuah vaksin seperti ini atau tidak.

“Yang paling merisaukan saya adalah bahwa masyarakat sejenis bersemangat, sangat ingin kembali umum, sehingga mereka mendorong kami (perusahaan farmasi industri) untuk bergerak lebih cepat dan lebih cepat, ” ujarnya.

Frazier menunjukkan tentang proses pengembangan vaksin tersebut sendiri. Terlebih, jika penggunaan vaksin itu akan menyasar milyaran karakter.

“Pada akhirnya, kalau suatu vaksin akan digunakan pada milyaran orang, lebih baik mendapati apa yang vaksin itu lakukan, ” katanya.

Dalam masa pandemi Covid-19 seperti ini, Merck tidak ingin gegabah & terburu-buru dalam mengeluarkan vaksin buat khalayak. Frazier bahkan memandang, masa orang-orang memberi tahu publik bahwa akan ada vaksin di simpulan tahun 2020, misalnya, hal tersebut akan merugikan masyarakat. Karena itulah, ia mengatakan bahwa Merck tidak ingin terburu-buru menghasilkan vaksin pra mereka melakukan evaluasi ilmiah yang ketat.

“Kami telah melihat di masa lalu, misalnya, dengan flu babi, bahwa vaksin lebih berbahaya ketimbang baik. Saya tidak memiliki sejarah besar pada memperkenalkan vaksin dengan cepat pada tengah pandemi. Kita harus memperhitungkannya, ” lanjutnya.

Di seperempat terakhir dari abad terakhir, hanya 7 vaksin baru dengan dikembangkan dan 4 di antaranya oleh Merck melawan patogen dengan sebelumnya telah ada Vaksin. Untuk Frazier, pengumuman kedatangan vaksin mewujudkan para politisi dan masyarakat mengurangi perhatian mereka terhadap virus tersebut.

“Ada tujuh seperseribu lima ratus juta orang di planet ini sekarang. Dan kami tidak pernah memiliki vaksin dengan telah digunakan dalam populasi sebesar ini, ” katanya.

Lebih lanjut, Frazier menambahkan kalau akan diperlukan untuk menyelesaikan tidak hanya masalah produksi pada skala yang memenuhi jumlah masyarakat yang banyak tersebut. Akan tetapi, menurutnya, perlu menemukan cara untuk menjatah obat, terutama di wilayah negeri di mana orang tidak siap membeli vaksin dan juga di mana tantangan untuk menjangkau itu yang membutuhkan lebih besar.