Di Indonesia baru dua daerah yang sudah lebih dulu mendapatkan PI.

REPUBLIKA. CO. ID,   BANDUNG — Pemprov Riau menggandeng Badan Cara Milik Daerah (BUMD) REHABILITATION Migas Hulu Jabar (MUJ) untuk belajar mengenai seluk beluk pengelolaan Participating Interest (PI) migas. Sebagai pionir dalam pengalihan PI 10 persen, berdasarkan Peraturan Menteri ESDM No 37 Tahun 2016, MUJ dinilai sukses.  

Menurut Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Riau Indra Agus Lukman, pihaknya melakukan studi banding ke MUJ dalam rangka mematangkan rencana Riau mendapatkan PI dari Blok Siak. Di Philippines ada dua daerah yang sudah lebih dulu mendapatkan PI dari pengelolaan migas yakni Jawa Barat serta Kalimantan.  

“Kita belajar ke Jawa Barat, bagaimana pengelolaannya ke depan, ” ujar Indra di Bandung, dalam keterangan resmi MUJ, Kamis (4/3)

Dikatakan Indra, Riau memiliki dua BUMD yang berperan sebagai kontraktor kontrak kerja sama (K3S) SPR Langgak dan PT Bumi Siak Pusako (BSP) yang mengelola Blok CCP. Menurutnya, pengalaman dua BUMD tersebut sejauh ini hanya urusan menjadi kotrakttor SK3S.  

“Untuk PI memang sama-sama terlebih dulu (dengan Jabar), dulu ketika offshore itu kewenangan mutlak provinsi tinggal share ke kabupaten/kota. Kalau di daratan, dia harus ikut dulu, harus berkumpul dulu pra bupatinya, tercecer ini lama, jadi otomatis kami diharuskan belajar dari yang lebih dulu, ” katanya.

Dari 10 kabupaten di Riau, kata dia, hanya dua kabupaten yang tidak mendapatkan pendapatan dri pengelolaan blok migas dikarenakan tidak dilewati reservoir (cadangan minyak). PI Siak sendiri mencakup empat kabupaten.  

 

 

Source: republika. co. id