Yang bisa diandalkan mencegah kontraksi dalam adalah belanja pemerintah dan ekspor.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menyatakan stabilitas sistem keuangan pada kuartal dua 2021 berada dalam kondisi normal. Hal ini melanjutkan pemulihan yang telah berlangsung di tengah meningkatnya Covid-19 varian delta.

Direktur Center of Economic and Law Studies Bhima Yudhistira menilai pemulihan ekonomi akan terganggu pada kuartal tiga 2021 karena perkiraan ekonomi kembali masuk trajectory resesi atau minus. “Situasinya berbeda jauh. Dengan penurunan kembali mobilitas masyarakat berbelanja di luar rumah, tekanan penghasilan juga dirasakan hampir semua sektor saat PPKM Level 4,” ujar Bhima ketika dihubungi Republika, Jumat (6/8).

Menurutnya konsumsi rumah tangga juga berkontribusi 55 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Dari sisi lain motor investasi bergantung dari konsumsi dalam negeri juga, sehingga cenderung wait and see

“Yang bisa diandalkan mencegah kontraksi tidak terlalu dalam adalah belanja pemerintah dan ekspor. Belanja pemerintah punya peran penting berkaitan penambahan alokasi stimulus PEN dan kecepatan pencairan anggaran bantuan sosial,” ungkap Bhima.

Maka itu, menurut Bhima, kinerja ekspor perlu diversifikasi selain komoditas dan tujuan ekspor. Bhima menyebut China dan AS memang pasar utama tapi situasi varian delta membuat negara tersebut melakukan pembatasan sosial di beberapa wilayah, akibatnya permintaan ekspor bisa terganggu.

“Kami proyeksi ekonomi kisaran minus satu sampai minus dua persen pada kuartal tiga 2021,” ucapnya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad mengatakan, sebaiknya pemerintah tidak berpuas diri terhadap pertumbuhan positif kuartal dua 2021. Pertumbuhan tersebut bagian dari fenomena low base effect.

“Jadi kita tidak perlu terlalu berbangga ketika memang fenomena low base effect itu terjadi karena hal yang biasa saja di negara-negara lain juga mengalami hal yang sama,” kata Tauhid.

Karena, menurutnya, jika dibandingkan negara-negara mitra dagang, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih jauh lebih rendah. Misalnya China dari minus 6,8 pada kuartal dua 2020 menjadi 18,3 persen pada kuartal dua 2021. Kemudian Amerika Serikat dari minus sembilan persen menjadi 12,2 persen dan Singapura dari minus 13,3 persen jadi 14 persen

Dia memahami, pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak bisa dibandingkan setara dengan negara mitra dagang. Namun yang bisa dilihat adalah berbagai negara lain untuk memperbaiki kondisi ekonomi ternyata bisa menghasilkan pertumbuhan lebih tinggi pada momentum kuartal yang sama.

“Hanya saja perbedaannya berapa besar presentasi dari low base effect sebagai sumbangan dari pertumbuhan ekonomi itu yang menarik. Paling tidak, kalau kita lihat low base effect kita anggap adalah sebesar pengurangan yang terjadi pada pertumbuhan ekonomi masing-masing negara ketika dia berjalan normal,” kata Tauhid menjelaskan.

 

Source: republika.co.id