Santunan telah ditransfer langsung ke keluarga korban

REPUBLIKA. CO. ID, BEIJING —  Pelaku tabrak lari di Tanah air Xianyang, Provinsi Shaanxi, China, hingga menewaskan seorang santri asal Paiton, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, sudah memberikan santunan kepada keluarga objek senilai 132. 928 dolar GANDAR atau sekitar Rp1, 86 miliar. Santunan telah ditransfer ke tanggungan korban

“Santunan ditransfer langsung ke rekening orang sampai umur korban di Paiton tanpa ada potongan apa pun, ” kata Atase Pendidikan dan Kebudayaan Kedutaan Besar RI di Beijing Yaya Sutarya, Sabtu.

Selain santunan dari pelaku, keluarga target masih akan mendapatkan asuransi rohani yang nilainya sekitar Rp200 juta dan biaya pengembalian SPP daripada pihak Shaanxi Polytechnic Institute, Xianyang, tempat korban, Muhammad Rendra Sampurna Wijayadi (21), menempuh pendidikan S1 Teknik Elektronik.
“Kalau asuransi sudah cair, Bapak akan saya kontak lagi untuk pengirimannya, ” kata Yaya saat menelepon Hatim, ayah korban, yang tinggal di Paiton.

Sebelumnya, Atdikbud dan staf Protokol dan Kekonsuleran KBRI Beijing telah menemui rumpun pelaku, pihak kepolisian, pihak kampus, dan mahasiswa Indonesia lainnya dalam kota itu.
“Kami telah bertemu para pihak tersebut dalam kepolisian Xianyang. Permintaan maaf telah kami terima, namun kami langgeng menyerahkan sepenuhnya proses hukum yang sudah berjalan, ” ujarnya mengiringi Koordinator Fungsi Protokol dan Kekonsuleran KBRI Beijing Victor Harjono.

Selain bertemu dengan para-para pihak, Yaya juga mendatangi pengurus masjid di Xianyang yang telah memberikan lahan untuk pemakamakan Rendra pada 7 Januari lalu. Sementara itu, Hatim dalam percakapan telepon dengan Atdikbud itu menyatakan mau menggunakan sebagian uang santunan tersebut untuk membangun musala di lingkungan sekitar PP Mambaul Ulum, Paiton, tempat Rendra menimba ilmu keyakinan sebelum melanjutkan pendidikan sarjananya di wilayah barat China itu.

“Saya sudah berembuk sesuai istri, rencana mau dibuatkan mushala di pondoknya Rendra, ” tutur Hatim yang dalam telepon itu didampingi ibunda korban, Ismaimunah.

Seperti diberitakan Antara , Rendra meninggal dunia di rumah sakit Kota Xianyang pada 5 Januri 2021 sesudah ditabrak kendaraan roda empat yang melaju tak terkendali pada 30 Desember 2020 dini hari.

Sementara rekan korban yang sama-sama dari Paiton dan sekampus di Xianyang, Faiq Iqbal Ainun, mengalami luka ringan dalam bencana yang terjadi di sekitar dunia kampus mereka itu.

Pelaku sempat melarikan diri sebelum akhirnya menyerahkan diri kepada bagian kepolisian pada 1 Januari. Peristiwa kematian warga negara asing dalam Kota Xianyang merupakan yang mula-mula kali dalam 40 tahun belakang.

Oleh karena rumitnya proses pengiriman jenazah dari Xianyang ke Paiton di tengah pandemi, akhirnya pihak keluarga mengikhlaskan objek dimakamkan secara Islami di Xianyang.
Pengurus masjid di Xianyang bersedia memberikan lahan pemakamannya karena juga mengenali korban yang tekun beribadah di masjid tersebut.

sumber: Antara

Source: republika. co. id