Perbincangan Sufyan ats Tsauri Saat Tawaf

Perbincangan Sufyan ats Tsauri Saat Tawaf

IHRAM. CO. ID, JAKARTA–Pada suatu masa, pada musim haji Sufyan ats Tsauri tengah melaksanakan tawaf di Baitullah. Dia melihat seorang laki-laki yang selalu membaca shalawat setiap dia melangkahkan kakinya. Sufyan men laki-laki tersebut dan menegurnya.

IHRAM. CO. ID, JAKARTA–Pada suatu ketika, pada musim haji Sufyan ats Tsauri sedang melaksanakan tawaf di Baitullah. Dia melihat seorang laki-laki yang selalu membaca shalawat setiap dia melangkahkan kakinya. Sufyan menghampiri laki-laki itu dan menegurnya.

“Engkau telah meninggalkan bacaan tasbih dan tahlil dan terfokus di Shalawat Nabi Muhammad SAW selalu. Apakah alasanmu melakukannya, ” tanya Sufyan ats Tsauri seperti dikisahkan dalam Abdurrahman Ahmad As-Sirbuny di dalam bukunya 198 Lakon Haji Wali-Wali Allah.

Laki-laki itu kemudian balik bertanya kepada Sufyan. “Siapakah tuan ini? Semoga Allah memberimu nikmat kesehatan dan keselamatan. ”

Sufyan menjawab, “Aku Sufyan ats Tsauri. ”

Laki-laki itu terkejut begitu mendapati siapa orang yang di hadapannya. Dia berkata. “Baiklah, akan awak ceritakan kisahku. Andai kata tidak karena engkau adalah orang istimewa pada masa ini, niscaya aku tidak akan menceritakan karunia dengan dianugerahkan kepada kaum, dan pasti aku tidak akan membuka spion yang diberikan Allah kepada ku. ”

Kemudian laki-laki itu berkisah, kata dia dalam suatu hari dia dan ayahnya pergi untuk menunaikan ibadah haji. Di tengah perjalanan ayahnya itu mengalami sakit yang cukup payah maka ia berhenti dulu untuk mengobatinya.  

“Lalu pada suatu malam yang memerihkan ayahku meninggal dunia. Namun yang paling menyedihkan adalah ketika wafatnya wajah lagu sangat hitam legam, ” katanya.

“Innalillahi wainnailaihirojiun, ” kata Sufyan meraskan kesedihan lawan bicaranya.

Laki-laki itu menyesalkan atas suasana ayahnya itu yang telah meninggal dunia dengan wajah yang menghitam. Ia terus diselimuti kesedihan melihat ayah yang dicintai meninggal tidak dalam keadaan bercahaya.

“Aku merasa sangat sedih menyengat keadaannya, ” katanya.

Lalu ia mengambil selembar kain dan menutupi wajah ayahnya. Iya begitu larut dalam kesedihan dan terus memikirkan apa yang akan dikatakan orang-orang jika melihat wajah ayahnya yang hitam dagang.

“Aku kebingungan di sisi jenazah ayahku, ” katanya.

Dalam keadaan seperti tersebut, dia diserang kantuk dan jeblok tertidur. “Tiba-tiba aku bermimpi tahu seorang laki-laki yang sangat indah, belum pernah kulihat laki-laki dengan tampan itu seumur hidupku, ” katanya.

Laki-laki itu kata dia, pakainnya begitu terang dan dari tubuhnya tercium aroma yang sangat harum, bukan seperti bau yang seperti biasa. Kemudian laki-laki itu melangkah menuju menuju jasad ayahnya dan membuka kain penutup wajahnya.  

“Lalu dia mengusap telapak tangannya ke wajah ayahku, maka tiba-tiba wajah ayahku menjadi putih semburat, ” katanya.

Laki-laki itu hendak beranjak pergi dan ia langsung memegang bajunya serta bertanya. “Wahai hamba Allah siapa engkau ini yang telah dikaruniai Allah untuk membantu ayahku dan menyiapkan kegundahan hatiku? ”

Laki-laki itu lalu menyambut tindakah engkau mengenalku?

“Aku adalah Muhammad bin Abdullah yang mendapat wahyu Alquran. Ketahuilah ayah mu, semasa hidupnya ialah orang yang selalu mengikuti hawa nafsunya. Akan tetapi dia banyak membaca shalawat untukku. Ketika kematian orang beriman Dia meminta uluran tangan kulit. Aku banyak menolong orang yang banyak membaca sholawat untukku. ”

“Kemudian ego bangun dan melihat wajah ayahku yang telah menjadi putih semburat, ”