REPUBLIKA. CO. ID, LONDON–Selama kurang tahun terakhir, Iftar, ataupun makan malam yang disantap umat Muslim untuk berbuka puasa selama bulan Ramadhan menjadi lebih dikenal umum.   Beberapa restoran makin memanfaatkan peluang tersebut secara membuat menu buka pertarakan.   Namun, ada ritual lainnya yang penting dalam bulan suci Ramadhan yang kurang dikenal, yakni Suhur.

Sumayyah Akhter, seorang mahasiswa berusia 20 tahun di London berbagi kisahnya melaksanakan sahur dalam negeri Ratu Elizabeth ini. Sahur sangat penting untuk memberikan energi saat puasa di siang hari di Inggris. Karena Muslim pada sana menghadapi hampir 17 jam puasa tahun tersebut.

Seperti kebanyakan muslim lainnya, Sumayyah selalu biasa sahur dengan timbil yang masih penuh kantuk. Ibunya akan membangunkan dirinya dan saudara perempuannya buat pergi ke dapur pada mana dia sudah merancang satu piring kami tuwo da miyan kuka, hidangan tradisional Nigeria Utara. Tetapi momen sahur saat itu dirinya hanya bisa melakukannya sendiri karena jauh secara keluarga.

  “Saat ini, saya mengganti makanan sisa. Saya menghasilkan makanan tradisional Asia Daksina yang disebut Sana, dengan merupakan campuran buncis, kentang, bawang, dan tomat.   Hal ini sangat umum di komunitas kami serta Anda akan menemukan banyak orang Asia Selatan yang memilikinya hampir setiap hari, ”kata Sumayyah dilansir dari Gal-dem, Jumat (30/4).

  “Agak menyedihkan untuk mengakuinya, tapi saya biasanya makan sereal untuk sahur.   Saya menyimpan kotak dan susu di kamar saya agar tidak mengusik ibu angkat, ”jelasnya.

  Berasal dibanding keluarga besar, Sumayyah melaksanakan Ramadhan jauh dari rumah menjadi penyesuaian bagi Sumayyah.   Dari duduk-duduk dalam meja makan, menonton acara TV lama dengan saudara laki-lakinya. Namun sahur saat ini telah menjadi acara sendiri.   Meskipun tinggal secara dua teman flat Muslim, jadwal mereka yang bertentangan membuat mereka makan sahur secara terpisah.  

“Saya merindukan aktif puasa dan sahur bersama-sama keluarga saya. Tapi aku rasa itu hanya arah dari tumbuh dewasa, menjelma dewasa, dan memiliki privilese itu, ”katanya.

  Berada jauh sejak keluarga adalah sesuatu dengan juga biasa dialami Kebaikan Junaid, seorang Insinyur berusia 24 tahun.   Letak di London dengan ibu angkatnya non-Muslim, Suhur serupa menjadi momen sunyi.

  “Bagian tersulit dalam menjalani Ramadhan minus keluarga adalah tidak memiliki seseorang yang membangunkan Anda untuk sahur. Saya dulu menyewa kamar di rumah dengan keluarga Muslim, maka itu transisi yang baik.   Tapi saya sudah terbiasa sekarang, hanya sekadar berbeda, ” kata Rahmat.

“Agak menyedihkan untuk mengakuinya, tapi aku biasanya makan sereal buat sahur.   Saya merapikan kotak dan susu dalam kamar saya agar tidak mengganggu ibu angkat aku, jadi ketika saya bangun, saya hanya makan, menelan air dan berdoa, ”tambahnya.

  Dini hari bisa menjadi zaman untuk refleksi dan doa yang dalam bagi penuh umat Islam.   Untuk Rahmat, membaca lebih banyak tentang Islam untuk memperdalam hubungannya dengan keyakinannya itu penting.

  “Saya memiliki kaum buku Islam yang hamba coba selesaikan bulan itu yang saya baca dalam Kindle saya.   Kami sedang membaca Rahasia Kasmaran Ilahi, ”ungkapnya.

Buku yang menjanjikan ‘perjalanan spiritual ke jantung Islam adalah bacaan populer Ramadhan ini seperti yang ditunjukkan oleh banyak pos yang saya lihat dibagikan tentangnya di media sosial. Walaupun Rahmat dapat menjalankan keyakinannya secara terbuka dan nyaman tinggal bersama ibu angkatnya, hal yang sama tidak mungkin terjadi pada Maryam *.

Maryam tinggal bersama keluarganya di Leicester dan bertarak diam-diam saat dia menyimpan pertobatannya dari orang gelap Hindu yang ketat.   Meskipun berpindah agama 11 tahun yang lalu dalam usia 17 tahun, ketakutan akan diusir dari vila keluarganya membuat Sahur kudu dilakukan sendirian dan di dalam keheningan di dalam dunia tidurnya.

  “Ketika saya pertama kali mulai berpuasa, yang lain meminta saya untuk mamah bar Slim Fast sebab mereka memberi Anda gaya sepanjang hari, jadi itulah yang saya lakukan selama beberapa tahun.   Tapi rasanya tidak enak, maka sekarang saya menyembunyikan biskuit Ryvita dan susu cokelat saya, ”kata Maryam, sambil mengeluarkan camilan sebelum matahari terbit dari laci mejanya.

Untuk menghindari terlalu banyak kebisingan dan risiko orangtuanya mengetahuinya, Maryam menggunakan alarm Fitbit buat membangunkannya tepat waktu.   “Jika dengungan tidak menimbulkan saya, kucing saya akan terbangun di kamar saya.   Mereka akan berangkat membuat keributan dan kemudian saya akan tahu telah waktunya, ”ungkapnya,

Sahur mungkin tidak memperoleh perayaan yang sama dengan Iftar, tetapi bagi banyak Muslim, itu membantu mengisi energi salam satu hari.   Meskipun kelelahan yang meningkat dan kurangnya energi dapat terjadi sebagai akibat dari terus-menerus bangun pada jam-jam malam yang jarang selama 30 hari berendeng, waktu yang dihabiskan buat makan tersebut memberi kita kemampuan untuk melaksanakan ciri dan ibadah.  

Berita Lainnya

Source: republika. co. id