Moral dan pelajaran menjadi senjata bagi para dai untuk berdakwah

REPUBLIKA. CO. ID, Sesungguhnya, tantangan dakwah para ulama zaman now selalu dihadapi nabi dan rasul, para sahabat, juga ulama terdahulu. Mereka tak hanya mengalami persekusi, mereka diusir, dianiaya, bahkan dibunuh sebab kaumnya.

Raja dan penguasa serupa kerap menjadi tantangan mereka, sejenis juga di Tanah Air. Memori mencatat, banyak ulama besar daerah ini yang merasakan dinginnya jeruji. Buya Hamka dan Muham mad Natsir adalah contohnya.

Dakwah menjadi tugas pada setiap Muslim meski caranya berbeda-beda. Di dalam QS Fu shilat ayat 33, Allah SWT berfirman, “Sia menyerang kah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru menuju Allah, mengerjakan amal soleh, serta ber kata, “Sesungguhnya, aku tercatat orang-orang yang berserah diri. ”

Di dalam tafsirnya, Imam Ibnu Katsir menjelaskan, ayat ini mengandung makna umum mencakup setiap orang yang meruah manusia kepada kebajikan. Penyeru pula mengerjakan apa yang diserukannya secara konsekuen. Rasulullah SAW menjadi panutan utama dalam contoh ayat itu.

Imam Hasan Al Basri menjelaskan, orang yang dimaksud adalah kekasih Allah. Dia manusia terpilih penolong agama Allah. Dia orang yang diutamakan Allah. Orang yang paling disukai Tuhan di antara penduduk bumi. Dia menyeru manusia untuk memenuhi pekik Allah seperti yang dilakukannya. Ia beramal soleh, kemudian berkata, “Aku termasuk orang-orang yang berserah muncul. ”

Sejak setiap hamba, ada yang betul-betul fokus membaktikan diri untuk kesibukan dakwah. “Dan hendaklah ada pada an ta ra kalian segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang munkar. Merekalah orang-orang yang beruntung. ” (QS Ali Imran: 104).

Imam Ibnu Katsir di tafsirnya menjelaskan, golongan yang dimaksud adalah para sahabat terpilih, para-para mujahidin terpilih, dan para ulama. Ayat ini bermakna hendaknya tersedia segolongan orang dari kalangan pengikut ini yang bertugas untuk mengemban urusan tersebut. Sekalipun, urusan tersebut memang diwajibkan pula atas di setiap individu dari umat ini.

Tidakkah Nabi SAW bersabda tentang tiga pilihan untuk mencegah kemunkaran. Pertama dengan tangan, jika tidak mampu dengan lidah, jika masih tidak mampu de ngan hati. Yang demikian tersebut adalah selemah-lemahnya iman. (HR Muslim).

Setelah mendapatkan tugas untuk menyeru manusia kepada jalan-Nya, Allah SWT pun meluluskan petunjuk bagaimana cara berdakwah itu. “Serulah (manu sia) kepada berkepanjangan Tuhanmu dengan hikmah dan disiplin yang baik dan bantahlah me reka dengan cara yang bagus (pula). Sesung guhnya, Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang sapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. ” (QS an-Nahl: 125).

Dua kata hikmah dan pelajaran menjadi senjata bagi para dai untuk berdakwah. Segala macam hasutan, penolakan, dan pengusiran yang berlaku akhir-akhir ini seyogianya tak menyusun mereka melepas dua kata itu. Dengan hikmah dan pelajar peduli, para dai justru bisa menunjukkan wajah Islam yang ramah. Wallahu’alam.

sumber: Dialog Jumat

Source: republika. co. id